Malam Lamaran Suci: Terpaksa Menikah, Kecelakan Yang Disengaja

Sulit untuk dibayangkan. Bagaimana pernikahan yang di awali dengan rasa yang bahkan lebih sulit untuk dijelaskan.

SITOENCOM,- Suci:nama samaran, bikin kegaduhan dalam sebuah keluarga besar. Kehamilan di luar nikah, dengan usia yang cukup muda tentu membuat siapa saja sakit kepala. Malam itu pertemuan dadakan dalam rangka lamaran di adakan.

Dia seorang gadis belia yang mungkin masih kekurangan pengalaman dalam menjalani kehidupan. Namun cinta tidak bisa dia tolak. Tentu saja ini soal rasa. Sangat manusiawi jika seorang gadis seumuran nya tertarik dengan lawan jenisnya. Akan menjadi kacau jika seandainya menyukai sesama jenis.

Namun pergaulan membuatnya terjerumus pada kegelapan nafsu sesaat. Di usianya yang kebanyakan masih menempuh sekolah menengah atas. Suci memang tidak melanjutkan pendidikan nya. Entah karena faktor ekonomi, yang jelas sejak kecil dia jauh dari ayahnya. Karena beberapa hal ayahnya harus berurusan dengan hukum. Suci besar tanpa pengawasan seorang ayah kandung.

Malam itu isak tangis seorang ibu terasa pilu. Ada ketidak percayaan dari pihak keluarga setelah mendengar pernyataan dari pihak keluarga laki-laki. Sebenarnya ini sangatlah mengejutkan. Suci sendiri awalnya tidak menceritakan kehamilan nya. Mungkin karena takut akan sikap keluarga nya sendiri. Dia hanya bisa mendesak sang kekasih untuk menikahinya. Mengingat usia kandungan nya yang sudah berusia lebih dua bulan.

Setelah desakan demi desakan, sang kekasih akhirnya meminta orang tua nya melamar gadis pujaan nya. Awalnya permintaan anaknya ini di tolak, ini juga mungkin karena faktor ekonomi. Melamar gadis dan melaksanakan perayaan pernikahan bahkan dengan kondisi seadanya tetap membutuhkan dana yang lumayan besar. Mungkin itulah yang difikirkan orang tua dari pihak laki-laki. Setelah mendapat pengakuan jujur dari si laki-laki akhirnya orang tuanya terpaksa harus bersilaturrahmi ke rumah suci dan keluarga. Nampaknya malam itu menjadi malam yang menegangkan di semua pihak tanpa terkecuali.

“Sepuluh juta cukuplah untuk melaksanakan acara resepsi”

Suara sang ibu sambil melirik suci, anak gadis belia satu-satunya. Bagaimana pun juga pernikahan akan dilaksanakan, anak dalam kandungan butuh ayah-ibu yang komplit. Setidaknya secara formal, jika seandainya agama tidak menganggap ayahnya ada karena kehamilan di laur nikah. Di tambah ini juga soal kehormatan dan nama baik keluarga.

Untuk orang dengan kehidupan ekonomi baik, angka sepuluh juta mungkin normal. Tapi tidak untuk pihak keluarga laki-laki. Apalagi harus di siapkan dalam waktu sesingkat mungkin. Dengan jujur bapak yang mewakili anak laki-laki hanya bisa menyanggupi uang lamaran sejumlah tiga juta. “Cuman itu yang ada untuk saat ini” kilahnya.

Terlepas dari berapa uang lamaran yang di sepakati malam itu. Ada kesepakatan secara diam-diam bahwa pernikahan harus dilaksanakan secepat mungkin. Minggu ini tanpa di tunda. Siap atau tidak, ada atau tiada uang lamaran nya. Yang jelas pertemuan malam lamaran bubar dengan perasaan masing-masing. Ada malu, kecewa, marah, dan berbagai macam yang memang sulit dibicarakan. Mungkin juga ada rasa bahagia, mungkin!.

Sulit untuk dibayangkan. Bagaimana pernikahan yang di awali dengan rasa yang bahkan lebih sulit untuk dijelaskan. Akan kah berjalan dengan bahagia. Pernikahan usia dini, dan mungkin tidak butuh lama harus menjadi orang tua. Semuanya serba dadakan. Siapkah secara mental, secara ekonomi. Apakah kedua belah pihak akan saling menerima pada akhirnya. Tidak ada pilihan lain. Tanpa kesempatan untuk menimbang rasa.

Posting Komentar

Copyright© Sitoen.com. All rights reserved.