Pak Haji Berduit

Haji Durahman dan Jayadi harus bersyukur masih bisa sholat di dalam mesjid. Walau berdesakan, dari pada hujanan di luar mesjid.

Sitoen Media.- “Jayadi” masuk ke dalam mesjid di kampung dengan membungkuk badan. Melewati sebagian jemaah mesjid yang sudah rapi menyusun shof. Biasanya dia hanya akan menunaikan sholat jum’at di pekarangan mesjid. Itu juga terkadang agak jauh dari pekarangan. Mengingat banyak nya jemaah yang juga akan menunaikan ibadah wajib tersebut.

Mesjid tersebut memang selalu ramai. Bukan tanpa alasan. Satu-satunya mesjd yang ada di kampung halaman nya. Itu membuat semua orang akan menunaikan ibadah jumat di mesjid tersebut. Mesjid itu dulunya hanya mesjid sederhana. Terbuat dari kayu ulin, berbentuk panggung ala jaman-jaman dulu. Mesjid “Babus Salam” itu namanya. Artinya pintu keselamatan. Tentunya orang yang memasukinya akan diharapkan selamat. Selamat urusan dunianya, dan juga akan selamat untuk urusan akhiratnya.

Hari itu hujan. Beberapa jemaah yang biasanya sholat di luar terpaksa harus masuk ke dalam mesjid tersebut. Tidak terkecuali “Jayadi”. Pemuda kampung yang sehari-harinya bekerja sebagai penjual ikan keliling. Bukan pemuda sholeh, tapi tidak juga “Buta Kakap” tanpa lentera sama sekali. Dia akan selalu menyempatkan untuk sholat berjemaah di mesjid, apalagi sholat jumat yang memang wajib dilakukan secara berjemaah.

Menggunakan sarung yang terlihat ada beberapa lipatan kecil di belakangnya. Menunjukan usia tua sarung tersebut. Baju putih lengan pendek, tancapan peci putih terlihat sangat kokoh. Mungkin sekokoh kehidupan nya yang melarat sejak masih kecil. Dulunya dia sering bermain-main di mesjid tersebut. Apalagi haji Durahman, guru mengajinya sering mengajar Al-qur’an di mesjid tersebut.

Guru Haji Durahman. Begitulah orang memanggilnya. Orangnya sholeh, tawadhu, dan sangat bersahaja. Kehidupan beliau dari hasil bertani dan berkebun. Tidak menggambarkan ketinggian ilmu beliau. Apalagi hanya seorang guru ngaji Al-qur’an. Namun hampir semua anak kampung di wilayah tersebut belajar Al-qur’an darinya. Beberapa anak kampung sebelah juga ikut belajar mengaji kepadanya.

Mesjid “Babus Salam” lama yang berdiri dari bangunan kayu ulin menjadi saksi perjuangan beliau membumikan Al-qur’an di kalangan anak-anak. Pelataran sisi barat dekat tempat wudhu, tempat beliau selalu duduk mengajar, sembari menunggu waktu sholat magrib. Antara sholat ashar dan magrib di pilih menjadi waktu mengajar, mungkin karena itu adalah waktu lapang beliau. Terkadang habis magrib juga, jika banyak murid yang ingin belajar.

Riuh suara anak-anak kampung akan selalu menjadi kenangan indah. Termasuk “Jayadi” muda. Dia menjumpai gurunya tersebut duduk selunjuran di sudut paling belakang. Kanan paling belakang sekarang menjadi posisi paling di sukai orang tua itu. Dia bersimpuh, salaman, dan mencium tangan gurunya. Wajah bersahaja, duduk dengan nyaman. Ada senyuman saat “Jayadi” datang menghampiri. Sebuah pemandangan langka. Orang baru mungkin akan merasa heran.

Haji Durahman atau Guru Haji Durahman. Nama beliau belakangan semakin redup. Apalagi sejak beliau berhenti mengajar di mesjid tersebut. Mesjid lama sudah lama hilang, di ganti mesjid baru yang lebih modern. Bangunan beton megah. Pernah-pernik berwarna emas. Mesjid yang di bangun ulang dengan biaya milyaran rupiah. Selain dana patungan warga. Haji “Saful” adalah donator utama pembangun mesjid.

Pengusaha asal Jakarta. “Haji Saful” terkenal kaya raya dari usahanya di bidang pertambangan. Dia adalah orang yang mendanai mesjid hingga sekarang. Patungan warga hanyalah formalitas di atas kertas untuk menunjukan bahwa mesjid itu masih milik warga. Namun semua orang tau, Haji Saful lah pemilik dana operasional mesjid. Beberapa kebijakan takmir mesjid juga belakangan harus berdasarkan ijin beliau. Nama Haji Durahman bahkan harus tergosor dari pengaruhnya di mesjid. Guru ngaji mana bisa dibandingkan dengan Haji Saful yang mampu menguyurkan dana milyaran untuk pembangunan mesjid.

Jangankan di sebuah mesjid. Kota dan provinsi, orang berduit bisa menjadi raja tanpa mahkota. Apalagi sekelas Haji Saful. Pengusaha tambang yang kaya raya, dan dermawan tentunya. Tanpa deklarasi sekalipun orang akan menjadikan orang seperti beliau sebagai panutan. Mesjid di bangun dengan megah, sumbangan infaq kepada warga saat hari raya puasa. Itu menegaskan posisi beliau sebagai orang kaya terkaya di kampung itu. Wajar saja, begitulah seharusnya Haji berduit. Tidak menumpuk harta buat diri sendiri, seperti yang sering warga ujarkan. Beberapa warga akan rela mengantri di hari raya, open house dalam bahasa kekinian.

Hari Raya, entah hari raya puasa atau korban. Hari yang sering dijadikan unjuk kelas sosial di banyak kalangan. Open house salah satu kesempatan Haji Saful menunjukan kelasnya. Bertajuk silaturrahmi. Bukan hanya warga biasa, dari kelas tokoh politik, hingga ustazd akan berdatangan. Orang dengan senang hati berkunjung kerumah beliau. Ada banyak makanan enak, begitulah pikir warga. Di tambah lagi amplop tebal. Ratusan ribu hingga jutaan. Makin tinggi kelas sosialnya biasanya makin tebal isinya. Orang biasa mungkin berisi ratusan ribu. Berbeda jika itu tokoh masyarakat atau ustazd. Dengan senang hati Haji Saful sendiri yang menyerahkan amplopnya. Isinya tentu tidak boleh bikin malu.

Saat sholat jumat. Haji Saful biasanya ikut. Jika tidak ada kegiatan luar kota. Hampir dekat belakang imam dan muazin. Shof pertama pun belakangan menjadi ajang kelas sosial. “Jayadi” pemuda penjual ikan keliling, normalnya sholat di halaman mesjid. Tokoh masyarakat dan beberapa ustazd, dan orang kaya tentu paling depan shof. Bukan aturan, hanya perspektif masyarakat yang tidak terucap. “Di sini saja lah” begitulah kalangan awam biasa menempatkan posisi.

Haji Durahman dan Jayadi harus bersyukur masih bisa sholat di dalam mesjid. Walau berdesakan, dari pada hujanan di luar mesjid. Hujan yang seharusnya membawa angin sejuk, di tambah AC di beberapa sudut mesjid. Rasanya masih belum mampu membuat rasa sejuk. Mungkin karena jemaah sholat yang memang membludak. Sesak menyebabkan udara sedikit panas namun lembab.

Mesjid lama dari kayu yang jendela dan pintunya selalu terbuka kapan saja itu memang sudah berubah. Susana nya juga berubah. Masyarakat juga berubah. Apakah lebih baik? Perspektif masyarakat yang menentukan. Jika Haji Saful yang berduit lebih baik dari Haji Durahman. Maka jadilah.

Rifani.S.- Banjar. 8 Maret 2023.

Posting Komentar

Copyright© Sitoen.com. All rights reserved.