Sitoen Media.- Parang bungkul. Mengingatkan penulis pada wasi tuha(besi tua) peninggalan almarhum kakek. Ada cerita yang menyebabkan besi tua itu cukup berharga di kalangan keluarga. Selain peninggalan warisan keluarga. Konon katanya parang itu menjadi salah satu senjata yang digunakan saat jaman perjuangan hingga kemerdakan.
Apa yang berbeda dengan parang lainnya. Tidak ada, kecuali kisah yang melatar belakangi keberadaan parang tersebut. Sesuatu yang sebenarnya susah untuk kita buktikan. Namun karena itulah yang menjadikan parang itu menjadi istimewa.
Ini seperti secangkir kopi yang sangat berkesan karena history kopi tersebut. Parang itu sudah kehilangan ketajaman nya. Dia seperti tertidur nyenyak setelah almarhum pergi meninggalkan dunia ini. Namun kisahnya abadi dari mulut ke mulut, khususnya di antara kalangan keluarga besar kami.
Kandangan tempat asal penulis. Sebuah kota kecil yang berada di antara pegunungan meratus dan dataran rendah, daerah air rawa nagara daha. Dulunya pernah terkenal dengan kejagauan nya. Hampir setiap orang biasa menjadikan wasi(besi) sebagai budaya gagaman. Wasi(besi) yang di bentuk sebagai lading, sampana, raja tumpang, hujung padang, naga runting, sampai parang bungkul akan menghiasi pinggang setiap orang.
Budaya Bawasi Orang Pahuluan
Cerita yang panjang jika kita hikayatkan. Budaya orang banua pahuluan. Sudah sejak jaman dahulu. Budaya bawasi melekat bagi orang Kandangan. Bukan sekedar hiasan, namun juga karena kebutuhan. Dari keperluan untuk berburu, berkebun, mencari ikan, hingga sebagai alat jaga-jaga diri dari berbagai macam ancaman.
Kandangan memang terkenal di masyarakat Banjar, Kalimantan. Buhan banua itu istilahnya. Pahuluan asal daerahnya. Termasuk sub suku Banjar yang sebenarnya menjadi asal muassal suku Banjar kebanyakan.
Jauh sebelum kerajaan Banjar. Banua pahuluan sudah menjadi pusat peradaban orang Banjar. Maka tidak heran jika beberapa tokoh terkenal ternyata banyak berdarah pahuluan. Jenderal Hasan Basery, Panglima Dambung, Ibnu Sina, hingga pahlawan nasional KH Idham Chalid. Mereka berdarah pahuluan. Pahuluan juga menjadi tapal batas pasukan belanda yang berhasil menguasai daerah Banjarmasin. Beberapa perang besar pernah terjadi di daerah pahuluan saat beberapa pasukan belanda berusaha masuk lebih jauh ke pedalaman Kalimantan. Kebanyakan usaha mereka akan dipatahkan oleh bubuhan Banua yang berasal dari pahuluan.
Di jaman Majapahit. Konon katanya setelah melakukan dua kali serangan. Daerah Tanjungpura yang berada di daerah pesisir akhirnya bisa dikalahkan. Sisa pasukan tanjungpura ini melarikan diri dan meminta bantuan dari kerajaan Nan Sarunai yang berada di daerah pahuluan. Pasukan dari daerah inilah yang kemudian memporak-porandakan pasukan Majapahit. Hingga sisa pasukan nya terpaksa tertahan di daerah marabahan dan margasari. Candi laras yang sekarang berada di Kabupaten Tapin menjadi peninggalan sisa pasukan tersebut.
Menurut hikayat, pasukan Nan Sarunai saat itu di pimpin oleh buhan datu dari Banua Lima. Derah yang kemudian akan kita kenal dengan istilah banua pahuluan. Banua lima ini juga yang kemudian menjadi alasan kenapa orang banjar pahuluan lebih dikenal dengan sebutan buhan banua.
Banua lima menjadi benteng pertahan orang banjar. Dari jaman kerajaan hingga jaman penjajahan. Belum ada catatan jika daerah itu benar-benar mampu di tembus oleh invasi dari pihak luar. Itu jika kita melihat catatan jaman dahulu. Akan sangat disayangkan jika akhirnya pertahan itu jebol oleh beberapa pihak luar dengan alasan komersial. Perusahaan tambang yang sudah mulai menguasai lahan-lahan di banua.
Banua lima atau pahuluan yang memang terkenal sebagai benteng akhir orang banjar. Maka tidak mengherankan jika kejagauan dan budaya bawasi dulunya sangat mendominasi daerah tersebut. Jika kita menjelajahi daerah tersebut. Akan banyak kita temukan warisan kakek-nenek buyut kita di sana. Senjata, hingga ilmu kesaktian. Banua akan menjadi sarangnya.
Mengulik Kembali Kejayaan Banua Pahuluan
Melalui parang bungkul aruah kayi kita sebenarnya ingin mengajak siapa saja untuk mengulik kembali catatan sejarah lama. Banua pahuluan itu seperti barang bungkul itu sendiri. Atau parang bungkul menggambarkan orang banua itu sendiri.
Jika anda memasuki kota Kandangan. Pada sisi kiri, dekat bangunan kediaman bupati Hulu Sungai Selatan. Ada satu monumen kecil yang pernah penulis perhatikan. Tidak tahu apakah sekarang masih ada. Parang bungkul dan tombak atau sumpit. Dua senjata yang paling identik dengan keberadaan masyarakat jaman dulu.
Parang bungkul khususnya. Senjata yang tidak akan lepas dengan budaya orang banjar. Bagaimana parung bukul menjadi kawan saat berburu, berkebun, hingga berperang. Pahuluan yang pernah menjadi pusat peradapan orang banjar hendaknya tidak dilupakan atau diabaikan. Apalagi diputar-balikan.
Sekarang bertebaran asumsi bahwa suku banjar adalah keturunan malayu sumetara yang mendiami bagian selatan Kalimantan. Kemudian berasimilasi dengan penduduk lokal. Penulis adalah orang yang menolak pendapat ini. Karena jelas itu pemutar-balikan sejarah.
Pahuluan Pernah Menjadi Pusat Peradaan Kalimantan
Mungkin bagi sebagian orang sub judul yang saya tulis adalah komentar yang sangat berani. Namun asumsi saya sangat beralasan. Ada beberapa alasan yang mungkin akan mulai membuka isi kepala kita.
- Fakta hasil penelitian asal muassal orang malagasi berasal dari tanah banua(Banjar) dan suku maanyan. Menurut beberapa sumber migrasi orang banua ke madagaskar terjadi pada abad ke 8.
- Daerah nagara daha sudah sangat lama memiliki teknologi perkapalan dan pandai besi. Salah satu ciri sebuah derah pernah menjadi kota besar atau bahkan pusat peradaban bisa di lihat dari teknologi yang di kuasai daerah tersebut.
- Daerah geografis. Beberapa daerah gambut dan rawa yang sekarang berada di Kalimantan Selatan dulunya berupa teluk yang di apet oleh tanjung. Itu menempatkan daerah hulu sungai yang sekarang sebenarnya berada di daerah pesisir.
- Hasil penelitian arang sisa yang ada di amuntai menunjukan usia yang bahkan lebih tua dari kerajaan kutai abad ke 4 masehi. Peninggalan orang pahuluan kuno. Antara 242 sampai 226SM
- Sumber hikayat kerajaan purba Nan Sarunai dan Tanjungpura. Dua kerajaan purba yang terdapat di Kalimantan. Dulu Kalimantan bahkan di kenal dengan sebutan Tanjung pura. Tanjung pura purba adalah kerajaan yang berada di pesisir sementara Nan Sarunai berada lebih masuk ke daerah pedalaman.
Mungkin ini hanya asumsi pribadi penulis yang belum bisa dibuktikan keabsahan nya. Setidaknya dari pijakan ini kita akan menemukan keterikatan dengan pola kehidupan sosial orang banua. Seperti budaya batiwah orang meratus atau budaya madam(merantau)nya orang banua.
Jika anda perhatikan pola kehidupan orang banua yang ada di banyak wilayah. Banjar modern. Akan kita dapati orang Banjar yang ada di jawa, sumetara riau, malaysia, hingga timur tengah. Di tanah haram Mekkah, orang banjar bahkan menjadi salah satu suku terbesar yang berada di sana selain suku madura juga banyak ditemukan di sana.
Apakah itu hal baru? Tidak. Bahkan orang banua sudah melakukan migrasi besar-besaran ke madagaskar ribuan tahun yang lalu. Hingga melahirkan orang-orang malagasi. Pola budaya madam(merantau) orang banua tentu di ikuti dengan teknologi yang memadai. Dan teknologi perkapalan sudah sangat lama di kuasai oleh orang-orang pahuluan yang secara geografis berada di daerah kaki gunung.
Teknologi besi dan kapal bukan barang baru bagi orang banua. Khususnya nagara. Ada istilah lucu buat orang nagara “Jika pesawat jatuh ke nagara, maka akan berubah menjadi sendok”.
Kekurangan Peradaban Orang Banua dan Kalimantan
Kita melihat bagaimana catatan sejarah banua dengan mudah di tulis ulang orang-orang luar banua. Memang bukan tanpa alasan. Salah satu kekurangan orang banua adalah minimnya catatan sejarah yang di tulis. Akan sulit kita menemukan catatan sejarang yang menjadi bukti peradaban. Itu tidak terlepas karena kita orang banua memang tidak memiliki budaya menulis, melainkan bertutur.
Jika kita kurang dalam budaya menulis, maka budaya bercerita tanah banua adalah gudangnya. Kita baru nggeh setelah beberapa orang berhasil melakukan penelitian. Bahkan sayang disayangkan hanya sedikit orang yang kemudian menindak lanjuti hasil penelitian tersebut.
Misalnya tentang hasil penelitian terbaru yang ternyata orang malagasi memiliki nenek moyang orang banua. Apa yang di lakukan oleh kita orang banua. Bahkan ada beberapa oknum di luar sana yang kemudian mengaburkan informasi seperti itu. “Nenek moyang orang Malagasi Adalah Orang Indonesia”. Kemudian beberapa oknum yang terlalu panatik buta kesukuan mengaitkan dengan betapa besar suku mereka dari jumlah populasi. Lalu kemana nama banua pahuluan dan banjarnya. Kemana nama besar dayak maanyan, biaju, meratus, dll yang menjadi cikal bakal orang banjar modern.
Membangunkan Kembali Parang Bungkul
Parang bungkul itu mungkin sudah kehilangan ketajaman nya. Dia tergantung dinding hanya sebagai hiasan belakang. Tidak akan ada yang tahu sejarah panjangnya. Jika dia pernah berdarah. Jika dia pernah mengusir penjajah. Jika dia pernah tegak mempertahankan benteng yang bernama banua. Tapi sampai kapan?
Penulis khawatir parang bungkul itu bahkan suatu hari nanti di tulis ulang oleh orang lain. Bahwa parang bungkul adalah buatan mereka. Bahwa parang bungkul adalah senjata mereka. Bahwa parang bungkul .....
Rifani. S. Banjar, 13 Maret 2023.
