Nan Sarunai: Pusat Peradaban Kuno Orang Kalimantan dan Nenek Moyang Suku Banjar

Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang menjadi cikal bakal kerajaan Banjar. Orang Nan Sarunai bisa dikatakan adalah nenek moyangnya Banjar

Di Kalimantan jaman dahulu di kenal Tanjung pura. Ada yang menyebutnya dengan istilah berbeda. Tanjung pura populer pada masa kerajaan Sriwijaya. Karena jaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan tersebut sempat menguasai sebagian daerah kalimantan. Tentu dengan catatan hanya sebagian kecil daerah pesisir pulau Kalimantan daerah barat yang memang berseberangan langsung dengan wilayah kerajaan tersebut.

Kalimantan di jaman dulu memiliki beberapa wilayah besar. Kepemerintahan purba. Tanjung Pura yang berada di daerah pesisir barat kalimantan. Dan Nan Sarunai yang berada di pedalaman Kalimantan. Nan Sarunai sendiri berpusat di daerah selatan dan tengah pulau tersebut. Pada artikel ini kita akan fokus membahas salah satu peradaban purba Nan Sarunai yang sempat menjadi salah satu pusat peradaban orang Kalimantan pada masanya. Peradaban ini memiliki hubungan erat dengan kerajaan Banjar yang dianggap sebagai penerus peradabannya. Didasarkan pada history dan wilayahnya.

catatan penulis: Alasan kenapa penulis mencoba menulis artikel ini karena adanya beberapa kesalahan informasi yang beredar. Setidak kesalahan berdasarkan sudut pandang penulis. Artikel ini bersifat tidak mengikat. Hanya sebagai pembanding untuk kajian-kajian ilmiyah lainnya. Penulis tidak menjamin bahwa semua informasi pasti benar.

Pusat Peradaban Purba Orang Kalimantan (Proto Malayu).

Berdasarkan hasil kajian ilmiyah. Pusat peradaban orang Kalimantan terletak di daerah selatan dan tengah Kalimantan. Saat itu penduduk asli Kalimantan di huni oleh banyak suku. Suku-suku inilah yang kemudian membentuk sebuah pemerintahan purba yang sifatnya kesukuan. Dimana pada saat itu sistem pemerintahan masih dipegang oleh kepala suku atau kepala adat. Pusat orang nan sarunai yang terdiri dari suku-suku inilah yang membentuk pemerintahan dan peradaban purba, yang kita kenal kemudian peradaban nan sarunai.

Perhatikan peta kalimantan pada tahun sebelum masehi. Ini menunjukan keberadaan wilayah Nan Sarunai sebagai pusat peradaban orang kalimantan yang pada saat itu dihuni oleh orang-orang dari berbagai suku dengan kepala suku sebagai pemimpin mereka. Di daerah itulah yang kemudian berkembang kerajaan-kerajaan dari peradaban Nan Sarunai terus kerajan kuripan, kerajaan nagara dipa, hingga yang terakhir kerajaan banjar.

Di akui atau tidak di akui oleh sebagian orang Banjar. Fakta inilah yang sering diabaikan. Bahwa nenek moyang orang banjar bersal dari orang-orang nan sarunai yang mayoritas dari berbagai macam anak suku. Yang saat ini di sebut Banjar pahuluan. Nenek moyang orang banjar itu berasal dari proto malayu bukan dari suku melayu sumatera seperti claim sebagian orang yang menyebutkan bahwa orang banjar adalah keturunan pencampuran orang malayu sriwijaya dan etnis dayak biaju dan lainnya.

Pijakan Berpikir Berdasarkan Sejarah, Geografi Wilayah, dan Kebudayaan

Kenapa penulis berusaha menekankan dalam catatan ini dari tahun sebelum masehi. Ini agar semua pembahasan kita bisa tertata dengan baik. Dari sejarah keberadaan peradaban manusianya itu sendiri. Karena kemudian akan kita temukan bagaimana beberapa budaya orang kalimantan ternyata terhubung dengan fakta ini. Dan kita menemukan benang merah jejak sejarah yang mungkin dicatat secara terpisah.

Mungkin di antara kita ada yang bertanya. Kenapa orang malagasi yang secara DNA dinyatakan berasal dari orang banjar, namun dari bahasa justru memiliki kemiripan dengan orang maanyan. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan ternyata orang maanyan, banjar, hingga orang malagasi sendiri memiliki asal yang sama berasal dari orang-orang nan sarunai.

Pada tahap ini penulis tidak lagi menyebut suku banjar, banjar pahuluan, orang maanyan, orang meratus, atau dayak. Mengingat istilah kesukuan belum ada pada waktu. Penulis lebih senang menyebutnya Banjar Arkais (Banjar kuno) atau Urang Nan Sarunai sebagai nenek moyang urang Banua.

Orang dalam penyebutan bahasa banjar menggunakan ejaan banjar pahuluan dengan Urang.

Orang Nan Sarunai dulunya hidup berada di daerah pesisir teluk. Dimana wilayah yang sekarang masuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan dahulunya berupa daerah teluk. Yang kemudian di jaman sekarang menjadi wilayah gambut yang berpenduduk. Wilayah geografi ini juga perlu menjadi pertimbangan kita dalam melihat sejarah peradaban.

Jika penduduk Nan Sarunai ternyata adalah penduduk yang memang hidup di daerah pesisir, maka tidak mengheran bagi kita jika Orang Nan Sarunai memiliki budaya melaut, budaya menjelajah, atau mungkin dalam era modern di sebut madam atau merantau ke kampung lain. Sebagai penduduk yang hidup di wilayah pesisir tidak aneh jika Orang Nan Sarunai memiliki keahlian teknologi perkapalan. Walau teknologi perkapalan pada masa itu tidak secanggih penduduk pesisir laut lainnya seperti orang bugis.

Ini menjawab kenapa orang-orang Nan Sarunai mampu melakukan migrasi besar-besaran, bahkan hingga sampai ke magadaskar. Ini karena memang orang-orang Nan Sarunai mampu melakukan itu. Mereka sudah memiliki kemampuan membuat kapal. Mengingat kehidupan mereka memang berada di daerah pesisir.

Memang ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Namun sebagaimana sudah penulis bahas sebelumnya. Kita akan memiliki pijakan dasar tentang perkembangan peradaban orang Kalimantan sejak sebelum masehi.

Kesalahan Asumsi Sejarah Kalimantan dari Orang Luar

Nama Banjar diperoleh kerana mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjar. Kerajaan Banjar yang menjadi identiti suku Banjar ini berasal dari Negara Dipa yang didirikan oleh Empu Jatmika pada abad ke-14 yang berhijrah dari Keling, Kediri, Pulau Jawa.[3] Penduduk wilayah ini ialah orang Melayu Sriwijaya yang berhijrah lebih awal pada abad ke-11 (mendirikan Kerajaan Tanjungpuri), orang Dayak Ma'anyan (dari Kerajaan Nan Sarunai) dan orang Jawa dari tentera Majapahit,[4][5] yang kemudiannya dipanggil orang Banjar. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama Banjar tersebut nampaknya sudah diterima umum dan tidak berubah lagi. https://ms.wikipedia.org/wiki/Orang_Banjar

Ini adalah kutipan yang penulis temukan pada wikipedia. Walau tidak dipastikan, namun itu menggambarkan sudut pandang beberapa orang yang berusaha menulis seolah-olah orang banjar berasal dari perpaduan suku melayu sriwijaya, jawa, dan penduduk asli kalimantan. Yang menurut penulis adalah asumsi terbalik.

Orang Nan Sarunai bahkan sudah memiliki peradaban maju jauh sebelum kerajaan sriwijiya menguasai sebagian wilayah barat kalimantan. Faktanya kerajaan sriwijaya bukan pendiri kerajaan tanjungpuri yang berada di wilayah tengah kalimantan yang berdekatan dengan orang nan sarunai. Melainkan Tanjung Pura. Tanjung puri dan tanjung pura itu berbeda.

Tanjung Pura adalah sebuah wilayah yang berada di sisi barat kalimantan dan pesisir laut. Wilayah ini pernah menjadi wilayah kerajaan Sriwijaya, dan pernah juga menjadi wilayah kerajaan Singasari, hingga wilayah kerajaan majapahit. Alasan majapahit berusaha menaklukan wilayah Tanjung Pura karena menganggap wilayah tesebut adalah bekas wilayah kerajaan singasari. Majapahit yang mengklaim diri mereka sebagai kelanjutan kerajaan singasari merasa berhak atas wilayah tersebut.

Sementara Nan Sarunai dan Tanjung Puri yang berada di wilayah yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa orang-orang nan sarunailah yang pada abad ke 8 melakukan migrasi besar-besaran hingga ke madagaskar. Jadi bukan orang sriwijaya yang melakukan hijrah ke wilayah nan sarunai.

Sangat dimungkinkan jika pada abad ke 7 dan 8 masehi. Saat kerajaan sriwijaya berdiri. Peradaban manusia semakin maju. Orang-orang mulai melakukan hijrah dan migrasi skala lebih besar. Termasuk orang Nan Sarunai yang juga mulai melakukan migrasi dan hijrah kewilayah-wilayah luar dari asal mereka.

Jika anda tertarik tentang perang Orang Nan Sarunai VS Majapahit. Penulis akan menulis Hikayat Perang Nan Sarunai VS Majapahit pada artikel yang berbeda. Pada kesempatan ini kita hanya fokus pada Nan Sarunai sebagai pusat peradaban awal orang Kalimantan dan asal usul suku banjar.

Sedikit Perjalan Sejarang Orang Banjar dari Orang Nan Sarunai

Sebagaimana sedikit tentang Nan Sarunai sejak tahun sebelum masehi. Ada sedikit perbedaan budaya kalimantan dengan budaya jawa dan sumatera. Jika orang jawa dan kerajaan-kerajaan di jawa memiliki budaya batu, dimana mereka membuat bangunan-bangunan megah dari batu dan membuat prasasti peninggalan dalam bentuk tulisan di batu. Maka orang Kalimantan justru menggunakan kayu sebagai bangunan megahnya.

Orang Kalimantan secara umum membangun rumah, bangunan istana, dan lainnya tidak menggunakan batu melainkan kayu. Itulah kenapa sulit ditemukan jejak sejarah orang Nan Sarunai pada prasasti batu. Jejak sejarah ditemukan melalui hasil penelitian arang sisa. Seperti hasil penelitian arang yang diambil dari sisa peradaban nan sarunai yang menunjukan abad-abad sebelum masehi. Dan inilah alasan kenapa pusat kerajaan dengan mudah berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Kita harus memahami perbedaan budaya tersebut dalam memahami sejarah panjang peradaban. Peradaban orang Nan Sarunai yang menggunakan kayu dengan peradaban lain yang menggunakan batu menyebabkan perbedaan metode penelitian dalam mencari jejak rekam sejarah. Untuk menguak jejak sejarah orang Nan Sarunai yang tergolong proto melayu dengan budaya kayunya tentu berbeda dengan cara membedah sejarah Deutro Melayu.

Pengkategorian suku Banjar sebagai Deutro Melayu atau Melayu muda harus di tinjau ulang. Orang Nan Sarunai yang sebagai nenek moyangnya orang Banjar itu Proto Melayu atau Melayu Tua. Ini sama dengan beberapa suku seperti toraja dan suku-suku di papua. Peradaban kita di mulai dari peradaban Nan Sarunai, bukan dari Banjar Modern.

Rifani S. Banjar.- 5-April-2023.

Posting Komentar

Copyright© Sitoen.com. All rights reserved.