Melihat Nan Sarunai sebagai Sebuah Peradaban bukan Kerajaan

Nan Sarunai sebuah peradaban kuno yang akan selalu menarik untuk kita bahas. Nan Sarunai yang selama ini disebut sebagai sebuah kerajaan. Benarkah?

Keberadaan sebuah kerajaan purba dengan nama Nan Sarunai menjadi silang pendapat. Penulis sendiri kesulitan menemukan sejumlah karya tulis yang ditulis oleh penulis lokal dari wilayah yang dianggap tempat nan sarunai pernah eksis. Kebanyakan keterangan di tulis oleh pihak lain. Dan tentu itu sangat meragukan. Kebanyakan adalah hasil copy paste, dan potongan asumsi tanpa dasar. Dan semakin kacau karena tidak adanya pendapat lain yang di tulis berdasar hostory lokal sebagai kritik pendapat atau penyeimbang pendapat.

Pada artikel pembahasan ini kita akan membahasa tentang “Nan Sarunai Sebagai Sebuah Peradaban Kuno. Serta kaitan nya dengan sejumlah suku-suku Nan Sarunai”.

Nan Sarunai Sebagai Sebuah Peradaban Kuno, Serta kaitan nya dengan sejumlah suku-suku Nan Sarunai

Sebelum Nusantara memasuki era kerajaan dan kesultanan. Nusantara pernah berada pada sebuah era peradaban kuno dimana wilayah-wilayah yang ada di huni oleh sekelompok orang dalam bentuk suku-suku. Kemungkinan besar peradaban ini adalah hasil peninggalan peradaban yang dibawa oleh generasi pertama setelah jaman megalitikum (jaman es).

Proto Melayu dan Deutro Melayu

Kita tahu bahwa penduduk nusantara adalah keturunan bangsa astronesia, sebuah bangsa penutur bahasa astronesia. Bangsa astronesia mendiami wilayah asia khususnya wilayah asia tenggara dalam dua gelombang. Gelombang pertama di sebut proto melayu atau melayu tua, dan gelombang kedua disebut deutro melayu atau melayu muda.

Di antara suku-suku dari gelombang pertama atau proto melayu, di antaranya: suku dayak, batak, toraja, sasak, nias, dan suku-suku yang berada di pulau papua. Berdasarkan pengamatan penulis tentang sejumlah suku yang ada di nusantara termasuk proto melayu mereka memiliki kesamaan yang hampir identik. Yakni sebuah sistem kepemimpinan berdasarkan kesukuan, hukum adat sebagai aturan di antara penduduk sukunya, dan tampuk kepemimpinan tertinggi dipegang oleh kepala adat atau kepala suku.

Jika anda ingin melihat sisa-sisa peradaban dari proto melayu ini, maka lihat tentang suku-suku di papua yang jumlahnya ratusan. Lihatlah suku dayak yang memiliki begitu banyak juga sub-suku dengan sistem kepala suku atau kepala adatnya. Atau anda bisa lihat bagaimana peradaban suku toraja, batak, atau suku nias.

Dan itu sedikit berbeda dengan deutro melayu, seperti: jawa, betawi, dan melayu muda lainnya. Yang mungkin juga memiliki adat budaya, namun sedikit berbeda dengan sistem hukum adat. Orang-orang dari deutro melayu. Mungkin terlihat meiliki pola yang sama, tapi sebenarnya sangat berbeda. Sistem hukum adat dayak dengan kepala suku atau adatnya atau sistem hukum adat suku di papua dengan kepada sukunya berbeda dengan adat dari suku jawa, bali, minang, dan pecahan deutro melayu lainnya.

Suku-suku yang termasuk kedalam suku proto melayu cenderung memiliki tatanan budaya kesukuan dengan kepala suku sebagai pemimpin tertingginya. Mereka menjalankan aturan suku yang disebut dengan hukum adat. Sementera suku yang termasuk dalam kelompok deutro melayu cenderung lebih modern sistem kepemimpinan. Bisa dalam bentuk pemimpin terpilih atau bentuk kerajaan yang keberadaan sistemnya lebih terbuka. Bahkan terkadang orang-orang dari deutro melalu memiliki sistem hukum yang lebih demokratis, semisal hukum ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara penduduk suku tersebut.

Nan Sarunai dengan Budaya Kesukuannya

Banyak informasi dan keterangan yang menyebutkan bahwa nan sarunai adalah kerajaan purba yang didirikan suku maanyan. Sebuah kerajaan kesukuan, dimana sebuah kerajaan yang dijalankan oleh satu suku tertentu.

Penulis tidak menolak pendapat ini, namun juga tidak membenarkan sepenuhnya. Itu berdasarkan fakta bahwa sistem kepemimpinan dalam penduduk asli Kalimantan itu awalnya menganut sistem kesukuan. Dimana pemimpin tertingginya adalah kepala suku. Dalam sistem kepemimpinan seperti itu tidak dikenal sebagai kerajaan.

Penulis cenderung meyakini bahwa nan sarunai itu sebuah wilayah yang terdiri dari banyak suku-suku yang di pimpin oleh para kepala suku. Anda bisa membayangkan itu seperti keberadaan suku-suku yang ada di papua. Dimana antara satu suku dengan suku lain bisa saja bekerja sama dan dalam waktu yang berbeda akan saling bermusuhan.

Jika itu kemudian di sebut dengan sebuah kerajaan, maka rasanya masih kurang tepat. Jika itu di sebut kerajaan suku, juga masih kurang tepat. Sistem pemerintahan kesukuan benar, tapi tidak sampai pada tahapan sebuah kerajaan. Mungkin bisa jadi sebuah pemerintahan bersama, dimana antara satu suku dengan suku lainnya saling berkerja sama sehingga terlihat seperti memiliki sebuah wadah kepemerintahan layaknya kerajaan.

Peradaban nan sarunai di mulai dari beberapa abad sebelum masehi. Besar kemungkinan nan sarunai adalah sebutan untuk wilayah kalimantan oleh penduduk asli kalimantan itu sendiri. Atau sebutan oleh sekelompok suku dominan yang ada di kalimantan kala itu. Nan sarunai menggambarkan sebuah era peradaban jaman suku-suku yang saat itu masih belum dikenal penamaan terhadap suku-suku tersebut.

Sisa peninggalan peradaban tersebut yang masih bisa kita temukan saat ini adalah konsep babuhan atau bubuhan di kalangan orang kalimantan, khususnya suku banjar. Saat konsep suku dayak atau suku banjar dan suku-suku lainnya belum ada. Orang kalimantan menyebut kelumpuk suku ini dengan sebutan bubuhan atau babuhan. Semisal bubuhan hamuntai, bubuhan hamandit, babuhan sungai rangas, babuhan sungai puting, bubuhan kutai, bubuhan tamiyang, bubuhan bakumpai, bubuhan paser, bubuhan sampit, dan bubuhan lainnya.

Rivalitas Nan Sarunai dan Tanjung Pura

Seiring waktu masuknya pihak baru sebagai bagian dari peradaban juga tidak bisa dihindari. Terlihat saat ras dari deutro melayu atau melayu muda mulai membentuk peradaban baru melalui sistem pemerintahan yang berbetuk kerajaan.

Beridirinya kerajaan-kerajaan baru di nusantara menandai masuknya era peradaban baru. Beridirinya kerajaan kutai pada abad ke 4. Menjadi penanda masuknya dan berkembangnya peradaban deutro melayu pada masa-masa itu.

Kerajaan sriwijaya hindu-budha yang berdiri di sumatera juga ikut mewarnai kehidupan di kalimantan. Orang-orang melayu sriwijaya yang terus memperluas wilayah mereka akhirnya masuk kesisi barat pulau kalimantan. Orang sriwijaya inilah yang kemudian memberikan nama pulau kalimantan dengan nama wilayah tanjung pura.

Bisa kita katakan nama nan sarunai untuk penamaan di kalangan orang-orang yang lebih dulu mendiami pulau ini. Dan tanjung pura untuk penamaan dari pihak luar yang mulai menciptakan peradaban baru.

Selepas dari kerajaan sriwijaya yang menguasai dan sempat membentuk wilayah barat kalimantan. Dan dengan mulai runtuhnya kejayaan kerajaan tersebut, orang jawa melalui kerajaan singasari mulai mengklaim wilayah bekas sriwijaya. Kemudian di lanjutkan oleh kerajaan majapahit yang juga mengklaim wilayah tanjung pura bekas wilayah sriwijaya dan singasari. Orang majapahit mengklaim wilayah tanjung pura karena menganggap mereka adalah kelanjutan dari kerajaan singasari dan sriwijaya tersebut.

Tidak heran jika di sisi barat pulau Kalimantan banyak kita temukan orang-orang dengan bahasa melayu yang mirip dengan melayu sumatera. Sangat wajar, karena wilayah tersebut selain dekat dengan kepulauan melayu riau, dan pulau sumatera. Daerah tersebut memang sempat menjadi wilayah sriwijaya.

Walau pun nama nan sarunai dan tanjung pura merujuk pada penamaan wilayah pulau kalimantan. Namun sejatinya antara nan sarunai dan tanjung pura adalah wilayah yang berbeda. Tanjung pura yang berada sisi lain, dan nan sarunai di sisi lainnya. Dan ada peradaban lainnya di sisi yang berbeda yang juga kemudian berkembang, yakni wilayah brunei.

Klaim Pulau Kalimantan Pernah di Taklukan Oleh Majapahit

Melihat ada klaim yang mengatakan bahwa majapahit pernah menaklukan kalimantan, memang ada benarnya. Wilayah itu adalah wilayah tanjung pura yang pernah menjadi wilayah kekuasaan sriwijaya dan juga pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan singasari. Wilayah inilah yang masuk dalam sumpah palapa patih gajah mada.

Mengutip referensi dalam naskah pararaton “Sira Gajah Mada Patih Amangkubumi, sira Gajah Mada: ‘Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”

Artinya kurang lebih: “jika telah mengalahkan nusantara, saya baru melepaskan puasa. Jika mengalahkan Guru, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Palembang, Tumasik, demikianlah (baru akan) menikmati palapa (melepas puasa).

Ini sesuai dengan sumber hikayat dari orang banjar yang mengatakan, bahwa kalimantan pernah di serang oleh majapahit berjumlah tiga kali serangan. Serangan pertama majapahit menyerang wilayah tanjung pura, namun pihak majapahit mengalami kekalahan. Kemudian melakukan serangan kedua yang di pimpin oleh laksamana nala, serangan kedua ini wilayah tanjung pura berhasil dikalahkan. Sisa-sisa orang tanjung pura ini kemudian melarikan diri ke wilayah orang-orang nan sarunai. Majapahit kembali melakukan serangan yang ketiga untuk mengejar sisa-sisa orang-orang dari tanjung pura. Namun orang-orang dari tanjung pura yang melarikan ke wilayah nan sarunai mendapatkan bantuan dari nan sarunai berhasil mengalahkan majapahit. Sehingga pada serangan ketiga majapahit kembali mengalami kekalahan. Sebenarnya serangan kedua dan ketiga bisa dikatakan satu serangan beruntun. Sisa-sisa pasukan majapahit yang di pimpin laksamana nala ini akhirnya tertahan di pesisir sungai barito, mereka tidak berani pulang ke majapahit setelah mengalami kekalahan yang kedua. Sisa-sisa peninggalan pasukan majapahit ini yang mendirikan candi laras yang sekarang masuk di kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Kekalahan orang-orang yang berada di tanjung pura inilah yang kemudian diabadikan dalam syair Nan Sarunai Usak Jawa oleh dayak Maanyan. Kenapa syairnya Nan Sarunai Usak Jawa atau Nan Sarunai Di Rusak Jawa. Karena bagi penduduk asli kalimantan yang saat itu masih berupa suku-suku, Kalimantan adalah Nan Sarunai. Sementara bagi orang melayu sriwijaya dan majapahit Kalimantan adalah Tanjung Pura atau Balakpura oleh kerajaan Singasori.

Jadi sebenarnya disini ada tiga persepsi. Bagi orang majapahit mereka menaklukan tanjung pura (kalimantan). Dan bagi penduduk asli tanjung pura mereka mereka telah di rusak oleh majapahit. Namun bagi sisi lain orang-orang nan sarunai mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah ditaklukan oleh majapahit.

Hubungan nan sarunai terjalin dengan majapahit justru terjalin setelah era jaman kerajaan nagara dipa, melalui politik dan diplomatik perkawinan antara putri orang nan sarunai yang diangkat sebagai putri kerajaan nagara dipa (Putri junjung buih) dengan pangeran dari kerajaan majapahit (Suryanata). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa kerajaan nagara dipa didirikan oleh empu jatmika bisa jadi benar. Namun empu jatmika sendiri tidak berani mengklaim bahwa dia raja kerajaan naga dipa. Karena sisa-sisa dari pasukan majapahit memang tidak kembali ke majapahit setelah kekalahan mereka dari orang-orang nan sarunai.

Pada kesimpulan artikel ini sebenarnya kerajaan nan sarunai tidak pernah runtuh. Mengingat nan sarunai sendiri bukan sebuah kerajaan. Orang-orang nan sarunai adalah sebuah peradaban masyarakat yang bersifat suku-suku. Peradaban nan sarunai dianggap selesai setelah munculnya pemerintahan kerajaan, berganti dengan peradaban baru.

Ada yang mengatakan peradaban baru ini dibawa oleh-oleh orang dari tanjung pura yang melarikan diri ke wilayah nan sarunai. Mereka sisa-sisa dari tanjung pura inilah yang mendirikan kerajaan tanjung puri. Jadi tanjung puri dan tanjung pura bisa dikatakan berbeda, selain berbeda wilayah tanjung puri juga adalah wujud baru dimana di dirikan oleh orang-orang nan sarunai yang menerima peradaban baru dari sisa-sia tanjung pura. Atau bisa juga tanjung puri adalah nama lain dari sisa-sisa orang-orang kerajaan tanjung pura itu sendiri.

Rifani S. Banjar.- 09-04-2023.

Posting Komentar

Copyright© Sitoen.com. All rights reserved.